Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemandirian petani, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjamin ketersediaan pangan di tingkat desa. Kepala Desa Temukus, Drs. Made Karuna, menyampaikan bahwa program ini merupakan wujud nyata kolaborasi pemerintah desa, BUMDes, kelompok tani, dan masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan lokal.
Dalam pelaksanaannya, BUMDesa Mekar Laba Temukus menerapkan sejumlah langkah strategis. Mulai dari perencanaan partisipatif bersama subak dan kelompok tani, pengelolaan modal secara transparan, pendampingan intensif dari tim teknis, hingga penguatan kapasitas petani melalui pelatihan. Hasil panen padi kemudian dibeli oleh BUMDes dengan harga adil, diolah menjadi beras kemasan desa, dan dipasarkan melalui kios desa.
Selain meningkatkan pendapatan petani, program ini juga berdampak positif pada keuangan desa. Desa Temukus kini memiliki stok beras sendiri untuk kebutuhan pangan masyarakat sekaligus meningkatkan pendapatan asli desa (PADesa). Kepercayaan masyarakat terhadap BUMDes pun meningkat berkat transparansi pengelolaan dan adanya laporan terbuka melalui papan informasi desa serta forum musyawarah desa.
Pendamping Desa, yang turut mengawal program ini, menyebutkan bahwa peran pendamping adalah sebagai katalisator agar adopsi praktik baik berjalan lebih cepat. “Kami mendampingi petani mulai dari teknis budidaya hingga manajemen usaha agar program ini tidak hanya produktif, tapi juga berkelanjutan,” jelasnya.
"Program ketahanan pangan padi di Desa Temukus juga membuka peluang usaha baru, mendorong diversifikasi produk olahan, serta memperkuat jaringan pemasaran melalui kerja sama dengan pelaku usaha. Ke depan, pemerintah desa bersama BUMDes berencana mengembangkan asuransi pertanian serta tabungan hasil panen untuk memperkuat perlindungan bagi petani" ujar pic ketahanan pangan desa Gede Suartama.
Dengan keberhasilan ini, Desa Temukus menjadi contoh praktik baik pengelolaan Dana Desa yang mampu menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat, sekaligus mendukung program nasional ketahanan pangan.
Penulis
Made Sundi Asmini

Mantap
BalasHapus