MEDIA INFORMASI TPP KABUPATEN BULELENG.

Minggu, 11 Januari 2026

Refleksi Pendampingan Desa: Merawat Asa, Menguatkan BUMDesa, Meneguhkan KDMP

Pendampingan desa bukanlah sekadar rangkaian program dan laporan administratif, melainkan sebuah proses panjang dalam merawat harapan, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan kemandirian masyarakat desa. Sebagai PIC BUMDesa sekaligus bagian dari penguatan KDMP, perjalanan pendampingan ini menghadirkan banyak tantangan, tetapi juga pelajaran berharga tentang arti membangun desa dari dan untuk masyarakatnya.


BUMDesa hadir sebagai instrumen strategis untuk menggerakkan ekonomi desa. Namun dalam praktiknya, membangun BUMDesa tidak sesederhana mendirikan badan usaha. Tantangan utama yang kami hadapi adalah keterbatasan sumber daya manusia, rendahnya literasi manajerial, serta masih kuatnya pola pikir bahwa BUMDesa hanyalah “proyek” semata. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, kami berupaya mengubah paradigma tersebut—bahwa BUMDesa adalah milik bersama, ruang belajar kolektif, dan alat untuk memperjuangkan kesejahteraan desa secara berkelanjutan.

Dalam proses pendampingan, KDMP memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan. Tidak jarang kami menghadapi resistensi, perbedaan kepentingan, bahkan kelelahan sosial akibat dinamika internal desa. Namun justru di situlah nilai pendampingan diuji. Pendamping tidak boleh hadir sebagai pihak yang merasa paling tahu, melainkan sebagai mitra yang mau mendengar, belajar, dan berjalan bersama masyarakat. Pendampingan yang efektif lahir dari empati, kesabaran, serta kemampuan membangun komunikasi yang jujur dan inklusif.

Hari Desa Nasional menjadi momentum reflektif bagi kami untuk menilai sejauh mana pendampingan telah memberi dampak nyata. Desa bukan objek pembangunan, melainkan subjek utama yang memiliki potensi, kearifan lokal, dan kekuatan sosial yang besar. Ketika BUMDesa mulai dikelola secara profesional, ketika masyarakat mulai percaya pada produk dan layanan desa, serta ketika pemuda desa berani terlibat dalam pengambilan keputusan, di situlah pendampingan menemukan maknanya.

Ke depan, tantangan desa akan semakin kompleks mulai dari digitalisasi, perubahan iklim, hingga persaingan ekonomi global. Oleh karena itu, pendampingan desa harus terus bertransformasi: lebih adaptif, partisipatif, dan berorientasi pada keberlanjutan. BUMDesa dan KDMP tidak hanya dituntut untuk bertahan, tetapi juga menjadi motor inovasi dan ketahanan desa.

Melalui refleksi ini, kami meneguhkan kembali komitmen untuk terus mendampingi desa dengan semangat kolaborasi dan pengabdian. Membangun desa adalah proses panjang yang membutuhkan ketulusan dan konsistensi. Selamat Hari Desa Nasional, Semoga desa-desa di Indonesia semakin berdaya, mandiri, dan bermartabat sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.

Refleksi Pendampingan Desa: Merawat Asa, Menguatkan BUMDesa, Meneguhkan KDMP Pendampingan desa bukanlah sekadar rangkaian program dan lapora...